Suasana
lapangan madrasah pada Senin pagi terasa lebih khidmat dan bersemangat dari
biasanya. Upacara bendera rutin hari Senin kali ini menjadi momen istimewa
karena kelas V untuk pertama kalinya mendapat amanah sebagai petugas upacara.
Lebih dari itu, mereka juga menjalankan tugas dalam format tata upacara
pelaksanaan yang baru, sehingga memberikan nuansa berbeda dalam kegiatan yang
sudah menjadi tradisi madrasah ini.
Sejak
pagi, para peserta didik kelas V tampak serius dan penuh kesiapan. Mulai dari
pengibar bendera, pemimpin upacara, pembaca UUD 1945, hingga petugas doa,
semuanya melaksanakan perannya dengan tertib dan percaya diri. Meskipun ini
adalah pengalaman pertama mereka menjadi petugas upacara, penampilan kelas V
mendapat apresiasi langsung dari pembina upacara karena dinilai mampu
menjalankan tugas dengan baik, percaya diri, dan penuh tanggung jawab.
Dalam
amanatnya, pembina upacara mengangkat tema yang sangat dekat dengan dunia peserta
didik, yaitu “Level Kehidupan.” Dengan menggunakan handphone sebagai alat
peraga, pembina mengajak peserta didik membayangkan bagaimana dalam sebuah
game, seorang pemain tidak bisa langsung berada di level tertinggi tanpa
menyelesaikan level-level sebelumnya. Demikian pula dalam kehidupan dan
pendidikan. Sebelum peserta didik dapat naik ke level kelas 6, mereka harus
menuntaskan level kelas 1 sampai 5 dengan baik.
Pembina
kemudian mengajak peserta didik berdialog secara interaktif:
“Kalau di game, apa yang terjadi kalau kita lompat level?”
Peserta
didik pun menjawab dengan antusias bahwa permainan akan gagal atau tidak bisa
dilanjutkan. Dari sini, pembina menegaskan bahwa setiap jenjang kelas adalah
tahapan penting yang membentuk kesiapan peserta didik untuk melangkah ke
tingkat berikutnya.
Agar
bisa “naik level” dengan baik menuju kelas 6, pembina menjelaskan bahwa peserta
didik membutuhkan beberapa “senjata kehidupan.” Senjata itu antara lain rajin
belajar, disiplin, tanggung jawab, percaya diri, jujur, pantang menyerah, dan mau
bekerja sama. Seperti halnya dalam game, tanpa senjata yang tepat, tantangan
akan sulit dilewati. Begitu pula dalam kehidupan belajar di madrasah.
Amanat disampaikan secara kontekstual dan dekat dengan keseharian peserta didik. Pembina bahkan sesekali menunjukkan layar handphone, mengaitkan fitur-fitur dalam game dengan realitas belajar, sehingga peserta didik terlihat antusias, tersenyum, dan terlibat aktif dalam menyimak amanat.
Upacara
hari itu tidak hanya menjadi ajang pelaksanaan tugas bagi kelas V, tetapi juga
menjadi momen refleksi bagi seluruh peserta didik tentang pentingnya menjalani
setiap tahapan belajar dengan sungguh-sungguh. Dengan semangat “Level
Kehidupan”, diharapkan seluruh peserta didik semakin termotivasi untuk terus
berkembang, naik level, dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
News
writer & photo: Khunafatul Arrofah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar